Nama : Assya Nurlansa
NIM : (11901178)
Prodi/kelas : PAI 4B
Assalamua'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...
Haloo apa kabar?
Senang sekali pada kesempatan kali ini kita bisa bertemu lagi, saya berharap kita dalam keadaan sehat wal'afiat serta dengan suasana hati yang damai dan berbahagia.
Baiklah langsung saja, Pada kali ini saya akan mengungkit perihal yang dulunya sempat kontroversi terkait perihal "Fullday school". Sudah tak asing bukan dengan kata Fullday scholl ini, apa yang terpikirkan oleh teman-teman setelah mendengar kata fullday school ini? Bahkan salah satu dari kita ada yang pernah melalui masa ini dan yang pastinya menuai berbagai macam pendapat serta argumen bukan...
Nah kebetulan bacaan minggu ini, berupa artikel yang bertema "Full Day School dalam Sistem Pendidikan Indonesia" yang dilansir oleh Center for Indonesian Policy Analysis.
Untuk lebih jelasnya lagi kalian bisa lihat disitusnya langsung ya teman https://cipa.or.id/full-day-school-dalam-sistem-pendidikan-indonesia/
Singkatnya saja artikel ini berisi tentang keadaan sistem pendidikan di Indonesia terlebih dengan hadirnya suatu wacana yang diungkapkan yang dulunya sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan yaitu bapak Muhadjir Effendi.
Seperti yang kita ketahui Full day school dapat diartikan dimana siswa-siswi melakukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan seharian penuh yaitu sekitar dari jam 07.00- 16.00. Artikel ini juga membahas tentang permasalahan yang sempat dihadapi dalam sistem pendidikan itu sendiri. Setiap keputusan pastinya memiliki konsekuensi dan terdapat dampak positif dan negatifnya. Tetapi, walaupun sekarang sudah terlaksanakannya masih saja kita teringat akan perubahan waktu jam belajar dulu VS sekarang.
Dengan hadirnya suatu kebijakan full day school di Indonesia sebenarnya kebijakan ini jauh sebelumnya telah lama diterapkan oleh bangsa barat terlebih mereka termasuk negara maju. Negara itu antara lain, yang pertama ada Singapura negara yang termasuk dalam kawasan Asia Tenggara terlebih lagi luas negara ini sangatlah kecil jika diumpamakan luas negara tersebut kurang lebih seperti pulau Bali.
Kecil bukan dibanding negara kita. Ets... Jangan remehkan walaupun negara yang kecil tetapi negara mereka sangatlah unggul dalam melaksanakan kebijakan full day school. Yang membuat anak-anak disana menjadi lebih kompeten dalam belajar. Kedua, ada negara Amerika Serikat, Negara yang biasa disapa negara paman sam ini juga sangat memproritaskan pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat anak dengan ini sasaran anak menjadi lebih jelas kedepannya maka akan mempermudah anak dalam mempelajari hal yang digemarinya. Ketiga ada negara Korea Selatan yang terkenal dengan sebutan negara ginseng dan genre musik K-pop yang begitu mendunia akan tetapi mereka juga sangat memperhatikan sistem pendidikannya. Selain itu ada juga negara China, Jepang, Taiwan yang lebih menekankan sistem belajar yang bisa dibilang work hard atau lebih menekankan dalam hal pendidikan. Selain belajar pada tingkat masing-masing serta jam pelajaran mereka juga disesuaikan tingkatannya, terlebih belum lagi ditambah dengan jadwal pelajaran tambahan dari sekolah ataupun les privat yang dilakukan setelah pulang dari sekolah belum lagi bagi siswa yang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Yaa.. bisa dibilang sama seperti di Indonesia akan tetapi saya rasa dulunya masih sulit untuk beradaptasi dengan kebijakan yang belum lama ini.
Mengingat tujuan pendidikan sekolah formal yang lebih menetapkan keputusan diakhir bisa dibilang lebih fokus kepenilaian ujian akhir semester yang nantinya akan menjadi penentu nilai kita nantinya. Seperti yang kita alami dari SD-SMA adanya ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan umum, UTBK untuk anak SMA.
Nah ada juga nih.. sistem yang telah lama dianut oleh sekolah mana pun.
Apakah itu?
Yups.. rangking ataupun peringkat dan inilah yang akan menjadi patokan seorang siswa. Hal ini yang bisa dilihat dan diukur secara jelas dari kemampuan masing-masing. Efek positifnya memang memacu anak untuk giat belajar agar mendapatkan hasil terbaik dan terutama jika seorang anak itu berniat untuk membuktikan kepada orangtuanya agar hadir dengan rasa bangga. Terlebih jika anak itu dijanjikan akan mendapat imbalan/hadiah maka sang anak pasti dengan sangat gigih untuk mencapai tujuan tersebut.
Berbanding terbalik dengan Negara barat mereka tak menganut sistem ranking karena tujuan sebenarnya adalah benar-benar mengkaji suatu pelajaran bukan terfokus akan persaingan dalam mendapatkan nilai yang lebih tinggi takutnya dengan adanya rasa terlalu ambisius yang bisa mendapat efek buruk pada siswa jika tak dapat menyesuaikan dengan kemampuannya dengan siswa yang lainnya yang bisa berakibat fatal seperti dibawah tekanan atau stress.
Kembali lagi pada bahasan sistem pendidikan di Indonesia yang belum sepenuhnya stabil mengingat negara Indonesia adalah termasuk dalam list nomor ke-4 dengan negara terpadat didunia dengan populasi penduduk Indonesia mencapai sekitar 200an jt penduduk yang sangat memungkinkan muncul masalah internal ditambah lagi masalah yang dulunya belum sempat terselesaikan. Banyak sekali hal yang seharusnya dapat diprorioritaskan seperti dengan dihadirkannya pemerataan kebutuhan sarana dan prasarana disekolah yang berada dijangkauan jauh seperti di desa bahkan diplosok negri.
Menurut saya memang sulit bagi pemerintah untuk mengoptimalkan kinerja dalam hal pendidikan dengan rintangan yang begitu terjal ditambah lagi dengan adanya kebijakan full day school membuat sekolah akan menjadi beban baik kepada guru ataupun murid, dan kini kita hanya bisa menyesuaikan dengan keadaan dan waktu secara bersamaan.
Setelah membahas sistem pendidikan di Indonesia yang menerapkan sistem full day school, kali ini masih dengan bahasan yang sama ya teman..cuman ini hanya sedikit opini dalam mengkaji kembali penerapan kebijakan full day school yang dilansir oleh Akuratnews.com dan untuk lebih jelasnya kalian bisa liat disitusnya langsung ya teman https://akuratnews.com/mengkaji-kembali-penerapan-kebijakan-full-day-school/
ini juga menyangkut perihal dari beberapa perwakilan yang memberikan sudut pandangan mereka masing-masing terkait kebijakan yang dikeluarkan pemerintah ini.
Pada laman blog kali ini saya juga akan memberikan sedikit tanggapan tentang penerapan kebijakan full day school.
Seperti yang kita ketahui dalam penerapan kebijakan full day school tak sedikit dari kita yang pernah mengalami kebijakan fullday. Bahkan saya pribadi hampir mengalami hal tersebut tapi untungnya pada masa sekolah saya dulu belum sepenuhnya dilaksanakan sebab masih terkendala waktu dan perlunya pertimbangan yang matang oleh pihak sekolah.
Mengingat menurut peraturan Menteri nomor 23 tahun 2017 yang menjelaskan bahwa pada hari sekolah dilaksanakan 8 jam dalam 1 hari atau 40 jam selama 5 hari dalam 1 minggu.
Wah.. padat yaa teman tapi memang seperti itulah gambarannya.
Terbayang bagaimana aktivitas belajar seperti apa yang kita lakukan dengan waktu yang begitu lama, apakah kita bisa fokus selama 8 jam tersebut? Dapatkah kita menerima setiap penjelasan yang guru berikan kepada kita? Dan yang terpenting apakah efektif jika ini dilakukan? Serta dampak apa saja yang dialami oleh siswa setelah melaksanakan kegiatan full day school ini.
Mungkin akan lebih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan dengan membahas full day school ini. Terlebih dari sudut pandang yang kita lihat dari salah satunya yaitu menurut Ketua Umum PKB Muhamin Iskandar, yang menolak adanya kebijakan full day school ini yang mana beliau berpendapat ini sangat mempengaruhi kegiatan Madrasah dan Pondok Pesantren.
Seperti yang kita ketahui kegiatan dipondok pesantren amatlah padat dan kegiatan ini start dari subuh sampai dimalam hari. Yaa mungkin sama dengan anak sekolah yang diluar tetapi ada perbedaan yang sangat tampak bagi anak pesantren sebab jadwal mereka tidak hanya belajar ilmu umum tapi juga dengan ilmu agama, terlebih lagi ada jam tambahan dalam mendalami ilmu agama. Dan belum lagi ada hal-hal lainnya. Saya paham betul dengan keadaan maupun jadwal dipondok pesantren bukan karena apa sebab saya dulu pernah mondok walau hanya 3 tahun dan tepatnya saat itu saya berada di Madrasah Tsamawiyah (MTS). Dulu saja jam sekolah dimulai dari pukul 07.00- 14.00 bahkan jika dihari besar lebih tepatnya dihari jum'at bisa saja pulang pukul 15.00. Hampir mirip bukan dengan schedule kebijakan full day school.
Mungkin ada alasan tertentu makanya pak Muhamin berargumen seperti itu jelas saya juga setuju yang mana jadwal harian santri yang harusnya telah disesuaikan jika ada kendala maka akan berpengaruh pada kegiatan selanjutnya yang mana seharusnya aktivitas disekolah tak sepenuhnya mendominasi harian mereka. Terutama pada anak santri dikhawatirkan kedepannya akan berefek dan tidak dapat menyesuaikn diri, selain menguras waktu, tenaga dan pikiran ini juga akan berpengaruh pada psikis anak. Terlebih lagi jika belajar dalam jangka waktu yang lama akan berdampak dari segi psikologi anak dan alhasil belajar menjadi tidak efektif.
Mengingat pandangan Neurosains.
Sekedar info nih teman, terkait Neurosains. Apakah kalian pernah mendengar kata Neurosains ini? Bagi kalian yang baru mendengar kata Neurosains mungkin agak sedikit asing terdengar tapi asal kalian tahu teman Neurosains adalah ilmu yang mempelajari terkait fungsi sistem saraf. Yang mencakup beberapa fungsi, perkembangan, genetika dan lainnya.
Nah maka dari itu, tidak memungkiri terjadinya kelelahan yang dialami oleh siswa belum lagi rasa jenuh yang mudah menghampiri yang membuat aktivitas belajar akan terhambat dan bukannya mendapat ilmu tambahan tapi hanya rasa lelah yang tersisa. Mendapatkan waktu jam belajar yang tepat akan mempengaruhi kinerja otak anak sehingga dapat memudahkan anak untuk memahami suatu pelajaran. Ditambah dengan siswa yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik akan mengoptimalkan pelajaran yang bisa dikembangkan dengan baik kedepannya.
Disisi lain full day school memiliki trobosan yang besar seperti negara maju yang telah lama menerapkan sistem ini dan bisa menumbuh kembangkan serta terciptanya sumber daya manusia yang berkarakter dimasa mendatang. Bisa jadi negara Indonesia perlahan kedepannya bisa berubah yang dari negara berkembang menjadi negara maju Aamiin... kita doakan bersama ya teman yang terbaik untuk negri tercinta. Dan menurut saya semua kebijakan pastinya memiliki tujuan tertentu dan sisi positif negatif tergantung pada bagaimana kita bisa menghadapinya dengan situasi dan kondisi yang mendukung juga berpengaruh untuk menentukan jalannya sebuah perubahan. Yang terpenting kesinkronan juga perlu diperhatikan mengingat sarana dan prasarana masih ada yang belum memadai terlebih terkait dalam kebijakan full day school dengan sarana prasarana yang memadai bisa saja memanimalisir sedikit permasalahan yang dihadapi dengan kegiatan yang full seharian disekolah akan memungkinkan murid senang bisa berada disekolahan.
Sekian bahasan kali ini maaf jika ada salah kata atau typo harap dimaklumi saya akan berusaha untuk lebih baik kedepannya.
Sekian... Terimakasih untuk kali ini karena sudah mampir diblog saya. Tetap jaga kesehatan dan selalu tersenyum.
Salam dari saya Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar