Rabu, 16 Juni 2021

 

NAMA            :  Assya Nurlansa
NIM                : 11901178
KELAS           : PAI 4 B
MAKUL         : Magang 1 (Laporan Bacaan/p11)


MEMBANGUN SEMANGAT SISWA DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH

oleh Muhammd Sadri Koto .

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hallo teman… bagaimana kabar para pembaca selama sepekan ini?

Bertemu lagi dengan blog saya dan saya ingin memaparkan hasil bacaan saya pada pekan ini, pada kali ini saya membaca jurnal tentang “MEMBANGUN SEMANGAT SISWA DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH” oleh Muhammd Sadri Koto .

Sudah tak asing bukan setelah mendengar kata “LITERASI” tapi sebelum itu mari kita mengulang kembali serta membahas pengertian dari literasi tersebut.

Literasi berasal dari bahasa Latin,  yaitu (literatus) yang berarti “a learned person” yang artinya  orang yang belajar. Literasi merupakan suatu kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami saat melakukan proses membaca dan menulis. Secara bahasa literasi adalah kemampuan siswa dalam menulis dan membaca. Namun sangat disayangkan pada kenyataan yang terjadi sekarang, literasi masih tergolong sangat rendah peminatnya terutama untuk  pelajar Indonesia sekarang. Bahkan buku-buku pelajaran tak lagi diminati pelajar masa kini.

Membaca adalah salah satu tradisi lama yang kini mulai terlupakan. Generasi muda sekarang yang terbuai akan kecanggihan teknologi menunjukkan bahwa minat rendah terhadap membaca. Namun kini budaya membaca kembali digalakkan di seluruh dunia. Di antarnya dengan memberi kesempatan pada para penulis untuk mempublikasikan karya mereka, tidak membatasi genre buku yang diterbitkan, hingga menambah jumlah buku yang diterbitkan.

Dalam budaya membaca, menulis, berdiskusi tak lagi menjadi ciri khas pelajar saat ini. Terlebih dari yang saya baca dari jurnal berdasarkan Penelitian dan Badan Pengembangan Kemendikbud, kemampuan membaca anak usia 15 tahun hanya 37,6 persen anak membaca tanpa bisa menangkap makna. Bisa dibayangkan bukan untuk usia anak-anak yang seharusnya masih semangat dalam membaca hanya sedikit yang membaca apalagi akan menangkap makna dari bacaan tersebut ini sangat berpengaruh bagi peserta didk karena jika seorang anak tersebut rajin membaca maka lambat laun anak tersebut akan terbiasa dan kemungkinan besar mereka akan cepat dengan mudah menangkap apa sebenarnya makna dari bacaan tersebut. Maka dengan itu mereka bisa dengan mudah memahami pelajaran apapun. Terkait dalam persoalan menulis, dibandingkan dengan negara berkembang lainnya walaupun minat membaca di Indonesia tergolong sangat rendah dengan minat baca terendah tersebut. Meski demikian, industri percetakan buku di Indonesia sangat maju. Terbukti dengan dikeluarkannya lebih dari 89.000 judul buku di tahun 2018 untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Mengingat mengenai buku yang ada didunia Pada tahun 2015, terdapat 1,6 juta buku yang diterbitkan di seluruh dunia. Hampir separuh dari jumlah tersebut diterbitkan oleh dua negara, yaitu China dan Amerika Serikat. Data tersebut dikeluarkan oleh International Publishers Association (IPA), sebuat organisasi non-profit yang berbasis di Jenewa, Swiss.

Pertama, seperti negara China yang menjadi negara  paling banyak mencetak buku di dunia. Tercatat pada tahun 2013, China menerbitkan 440.000 judul buku baru, termasuk edisi revisi. Dan menurut Reading Report yang dirilis oleh Amazon China, toko buku online terbesar di negara tersebut, tren membaca di China mengalami peningkatan termasuk di kalangan generasi muda. China tercatat menerbitkan 28% dari total seluruh buku yang diterbitkan di seluruh dunia, sementara Amerika Serikat menerbitkan 20% dari jumlah tersebut. Tingginya jumlah buku yang diterbitkan oleh setiap negara menunjukkan budaya membaca, literasi, dan pendapatan per kapita negara tersebut. Dan wajar saja negara China dan Amerika Serikat tergolong negara dengan pendapatan per kapita tertinggi.

Education Development Center (EDC) juga menyatakan, literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan keterampilan (skills) yang dimiliki dalam hidupnya. Farr (1984) menyampaikan bahwa “Reading is the heart of education”. Sedangkan dalam kaitannya dengan menulis, Hernowo (2005) dalam bukunya “Mengikat Makna” menyebut bahwa menulis dapat membuat pikiran kita lebih tertata tentang topik yang kita tulis.

Suhardjono (2016) menyatakan literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Orang dengan kegemaran membaca dan menulis, umumnya disebut sebagai orang yang (telah) berbudaya literasi. Ada pula yang mengatakan, budaya literasi adalah kebiasaan berfikir yang diikuti oleh proses membaca dan menulis.

Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Jadi dapat dinyatakan bahwa literasi adalah berbagai aktivitas yang berkaitan dengan aktivitas berbahasa, khususnya membaca dan menulis. Program Gerakan Literasi Sekolah yang digulirkan oleh Kemendikbud merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Tujuan Umum literasi adalah menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar menjadi terlaksanabya pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat. Makanya ada sebuah hadist yang menyebutkan” Uthlubul 'ilma minal mahdi ilal lakhdi” Artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.”

Tujuan Khususnya Program Gerakan Literasi Sekolah, sebagai berikut :

1.      Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah

2.      Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.

3.      Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

4.      Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca

Berdasarkan urian diatas maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dialami dalam pelaksanaan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yaitu :

1.      Rendahnya minat siswa dalam kegiatan membaca dan menulis (literasi)

2.      Minimnya buku non pelajaran di perpustakaan sekolah

3.      Pengelolaan perpustakaan sekolah yang kurang mendukung kebutuhan peserta didik,

4.      Lemahnya apresiasi terhadap peserta didik dalam kaitan membaca dan menulis (literasi)

5.      Tidak adanya kegiatan yang memacu semangat literasi anak atau peserta didik.

Mengingat kita masih dalam pembahasan Literasi, seperti biasanya kita akan berbagi pengalaman dalam blog ini selain mengetahui materi literasi maka kita akan kembangkan lagi dalam kehidupan sehari-hari terkhusus bagaimana penerapannya disalah satu sekolah. Saya dan teman saya sudah mengalami kebijakan literasi ini disekolah yang mana awal-awalnya kebijakan ini sedang tren dan jadi topik bahasan yang hangat dan juga sudah banyak sekolah yang menerapkan sistem literasi disekolah.

Buku yang direkomendasikan oleh pihak sekolah diberikan kebebasan dalam memilih buku apa yang hendak kami jadikan bahan bacaan setiap harinya dan buku itu tentunya memiliki berbagai genre. Misalnya saja genre non fiksi, fantasi, sejarah, biografi bahkan sci-fi. Tapi akan lebih baik jika buku yang kami baca tersebut masih tergolong dalam pelajaran sekolah. Selain itu untuk menindak lanjuti bahwa kegiatan literasi ini sebagai kebijakan yang dilakukan agar para siswa-siswi dapat membiasakan diri untuk membaca maka sekolah kami dulu menggunakan media buku jurnal yang digunakan untuk sebagai bukti bahwa kita telah menerapkan literasi tersebut dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Bukti buku jurnal tersebut berisikan data untuk para siswa-siswi isi dijurnal tersebut dan itu mengenai data nama, tanggal, hari, waktu, buku bacaan apa yang dibaca serta tanda tangan siswa tersebut. Ketika akan memasuki kelas maka guru yang masuk npada jam pertama-selesai akan bertugas memeriksa buku apa saja yang dibawa oleh siswa-siswi dikelas tersebut. Apakah sesuai dengan rekomendasi dari sekolah atau  tidak jadi kami tidak membaca buku yang hanya  sekedar menghibur tapi lebih kepada ilmu dan wawasan yang dibutuhkan oleh peserta didik.

Pada saat jam masuk sekolah lainnya tepat pada pukul 07.00 sekolah kami telah masuk 15 menit sebelum pukul 07.00 pagi karena waktu alokasi itu digunakan untuk literasi. Jadi kami masuk kekelas tepat pukul 06.45 terkadang juga waktu membaca kami lebih dari 15 menit. Contohnya saja pada hari jum’at kami sebagai peserta didik wajib untuk membawa Al-qur’an dan biasanya kami melakukan tadarus bersama dan kebetulan pada hari jum’at itu jam pertama kami terdapat pelajaran Agama Islam yang berlangsung selama 135 menit. Yang menjadikan kami wajib membaca Al-qur’an secara berjamaah. Jika terdapat siswa atau siswi yang lupa atau tidak membawa buku atau Al-qur’an tersebut maka mereka akan dikenai hukuman yaitu berdiri didepan kelas selama proses litersi tersebut berlangsung. Yang awal-awalnya para siswa-siswi belum terbiasa akan kebijakan bagus ini lambat laun mereka terbiasa dan terus membawa buku bacaan mereka bahkan sampai mereka mengganti buku tersebut karena telah selesai membaca buku tersebut. Dan ini menunjukkan kebijakan ini jika dilakukan dan diterapkan akan berdampak baik bagi peserta didik maupun kegiatan pembelajaran disekolah dan saya rasa kebijakan sekolah yang telah diambil ini  sangatlah efektif untuk membiasakan para peserta didik untuk membiasakan membaca disetiap harinya.

Jadi begitulah gambaran kegiatan proses literasi yang sempat sekolah saya terapkan. Sekian laporan bacaan dari saya dan saya berharap ini bermanfaat bagi para pembaca dan menambah wawasan serta bisa diambil hikmah dari pengalaman tersebut.

Sekian dari saya, saya ucapkan terimakasih dan sampai jumpa lagi nanti dengan tema blog yang terbaru

Selasa, 08 Juni 2021

PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Laporan Bacaan Magang 1
Assya Nurlansa (11901178)

PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Apa kabar sahabat pada kali ini? 

sudah hampir satu bulan bukan kita tak berjumpa dan kini kita dipertemukan lagi dengan laporan hasil bacaan saya pada minggu ini.

Saya berharap kita selalu diberikan kesehatan serta kemudahan dalam menjalani hari. 

Nah... pada kali ini saya akan membahas tentang PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM yang teman-teman bisa lihat dari link sebagai berikut:

https://media.neliti.com/media/publications/195611-ID-pembentukan-karakter-melalui-pendidikan.pdf

Pertama kita akan mengingat kembali tentang apa itu Karakter?

Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut. 

Pendidikan karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus untuk kearah hidup yang lebih baik. Terlebih sekarang dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini telah banyak terjadi krisis moral yang terjadi ditengah – tengah masyarakat maupun dilingkungan pemerintah yang semakin meningkat dan beragam jenisnya. Contohnya saja seperti tindakan kriminalitas, ketidakadilan, korupsi, kekerasan pada anak, pelangggaran HAM hal tersebut menjadi bukti bahwa telah terjadi krisis jati diri dan karakteristik pada bangsa Indonesia. Terkadang telah banyak upaya yang ingin bahkan telah dilakukan agar dapat mengatasi masalah yang ada pada terkhususnya peserta didik, sebab peserta didik adalah calon bibit harapan bangsa dikehidupan berikutnya maka dari itu peran pembentukan karakter sangat diperlukan terlebih melalui Pendidikan Agama Islam.

Peran pendidikan agama Islam sangatlah strategis dalam mewujudkan pembentukan karakter siswa. Pendidikan agama merupakan sarana pengetahuan dalam aspek keagamaan (aspek kognitif), sebagai sarana transformasi norma serta nilai moral untuk membentuk sikap (aspek afektif), yang berperan dalam mengendalikan prilaku (aspek psikomotorik). Akhlak atau karakter dalam Islam merupakan point utama dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hadits nabi yang menjelaskan tentang keutamaan pendidikan akhlak salah satunya hadits berikut ini: “ajarilah anak-anakmu kebaikan, dan didiklah mereka”.

Akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan manusia yang menjadi penentu keberhasilan bagi potensi pedagogis yang lain. Prinsip akhlak terdiri dari empat hal yaitu:

1.     Hikmah ialah situasi keadaan psikis dimana seseorang dapat membedakan antara hal yang benar dan yang salah.

2.     Syajaah (kebenaran) ialah keadaan psikis dimana seseorang melampiaskan atau menahan potensialitas aspek emosional dibawah kendali akal.

3.     Iffah (kesucian) ialah mengendalikan potensialitas selera atau keinginan dibawah kendali akal dan syariat.

4.     ‘adl (keadilan) ialah situasi psikis yang mengatur tingkat emosi dan keinginan sesuai kebutuhan hikmah disaat melepas atau melampiaskannya

Jadi prinsip akhlak diatas menegaskan bahwa fitrah jiwa manusia terdiri dari potensi nafsu yang baik dan potensi nafsu yang buruk, tetapi melalui pendidikan diharapkan manusia dapat berlatih untuk bisa mengontrol semua perbuatannya.

Tujuan utama Pembelajaran PAI adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan sehari-hari. Serta Pendidikan Agama Islam juga berperan penting yang mana bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia.

Indikator keberhasilan pendidikan Karakter adalah jika seseorang telah mengetahui sesuatu yang baik (knowing the good) yang bersifat kognitif, kemudian mencintai yang baik (loving the good) bersifat afektif dan terakhir dapat melakukan yang baik (acting the good) yang bersifat psikomotorik.

Keberhasilan pembelajaran PAI disekolah salah satunya juga ditentukan oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat. Proses belajar mengajar diharapkan dalam pendidikan akhlak adalah lebih kepada mendidik bukan hanya sekedar mengajar. Mendidik berarti proses pembelajaran lebih diarahkan kepada bimbingan atau berupa sebuah nasihat. Membimbing dan menasehati berarti mengarahkan peserta didik terhadap pembelajaran nilai-nilai sebagai tauladan dalam kehidupan nyata, jadi bukan sekedar menyampaikan yang bersifat pengetahuan saja. Tujuannya juga agar peserta didik bisa mengamalkan pembelajaran yang telah didapatnya ketika disekolah, jadi ini berbuahkan hasil yang baik karena adanya proses yang baik

Sempat terpikirkan jika pembelajaran PAI ini posisinya bukanlah salah satu materi yang menjadi standar kelulusan bagi siswa dan berpengaruh terhadap peserta didik dan pendidik dalam pembelajarannya. Hal inilah menyebabkan pelajaran PAI dianggap remeh bahkan hanya sekedar menjadi pelengkap pembelajaran saja dan perlu diketahui lagi untuk poisisi pelajaran agama islam Ketika SD-SMA menepati posisi 1 dalam buku rapot yang menandakan pelajaran ini adalah mata pelajaran yang penting dibandingkan mata pelajaran lainnya. Mengingat lagi  pembelajaran PAI hanya dilakukan didalam kelas saja yang dibatasi oleh waktu pelajaran setiap minggu, parahnya lagi evaluasi PAI hanya dilakukan dengan tes tertulis.

Usaha untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, di antaranya terlebih dahulu mencapai tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam. Tujuan pembelajaran juga dapat diartikan juga sebagai tujuan operasional atau tujuan praktis yang dapat dicapai melalui sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Contohnya  saja yang pernah saya alami ketika masa SMA.

Jadi saya ingin berbagi cerita sedikit mengenai pengalaman belajar saya,  ketika itu pembelajaran agama islam biasanya dilaksanakan atau dilakukan hanya satu kali dalam seminggu syukurnya pembelajaran ini dilaksanakan dengan waktu yang panjang yaitu 3 jam, yang mana hitungannya untuk per 1 jam dihitung selama 45 menit, jadi dalam seminggu kami hanya mendapatkan waktu 135 menit untuk belajar agama. Terlebih lagi kelas saya dapati ternyata guru yang mengampu mata pelajaran Agama Islam tersebut merupakan alumni pesantren yang membuat pelajaran yang biasanya dilakukan untuk anak tingkat SMA rasa saya agak berbeda dari yang lainnya. Seperti contoh saja setiap mata pelajaran agama diwajibkan para siswa untuk membawa Al-Qur’an dan tugasnya kami biasnya disuruh mengaji dalam urutan acak. Kemudian terdapat pembelajaran dasar yaitu bagaimana tata cara berwudhu yang benar dan disertai doanya, terlebih lagi kami wajib untuk menghapalkan doa tersebut karena ini termasuk dalam nilai ujian praktek. Dari ini yang saya maksud adalah pentingnya pendidikan karakter pada peserta didik, karena karakter seseorang muncul dari sebuah kebiasaan yang berulang-ulang dalam waktu yang lama serta adanya teladan yang bisa didapatkan. Hapalan yang kami lakukan bukan hanya sekedar mengejar nilai semata jika ini dilakukan dengan niat yang baik agar wudhu kami diterima setiap anggota badan yang dibasuh maka saya yakin sampai sekarang pun ingatan bacaan doa wudhu tersebut masih diamalkan sampai sekarang. Dan itu merupakan salah satu pembiasan yang dilakukan dalam pembelajaran dikelas.

Selain itu Sedangkan upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam memaksimalkan pembelajaran PAI di sekolah di antaranya:

1) Dibutuhkan guru yang profesional dalam arti mempuni dalam keilmuannya, berakhlak dan mampu menjadi teladan bagi siswanya. Seperti yang saya katakan tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu tapi juga berperan dalam membimbing peserta didik.

2) Pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi ditambah dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang dilaksanakan dengan serius sebagai bagian pembelajaran. Dan ini juga termasuk salah satu upaya yang dilakukan oleh guru agama saya ketika SMA terkhususnya bagi anak yang mengikuti kegiatan Rohani Islami  atau yang biasa disebut dengan Rohis. Jadi program pembelajaran yang dilaksanakan setiap pagi sebelum bel masuk kelas kami mengadakan pembelajaran itu didepan masjid sekolah. Berhubungan lokasi sekolah kami berada dijalan raya dan didepan sekolah tepat adanya masjid memudahkan kami untuk fokus belajar mengaji dan mempelajari hukum tajwid yang dibimbing oleh guru agama kami.

Memang diawal diluar pembelajaran ini sangat sedikit sekali yang mengikuti mengingat terlalu pagi dan para siswa memiliki kesibukannya masing-masing. Kemudian lama kelamaan ini berproses dan memberikan pengaruh yang baik sebab pembelajaran untuk mendalami Qur’an tak mungkin kami dapatkan dikelas karena keterbatasan waktu.

Dan ternyata anak SMP juga mendapatkan hal yang sama juga bahkan lebih dari kami karena program yang mereka ikuti tersebut merupakan program wajib langsung dari sekolah. Mereka sangat beruntung karena apa? Karena mereka mendapatkan pembelajaran lain selain pembelajaran Qur’an yaitu seperti pembelajaran fiqih, nahwu shorof, dan wajib menghapalkan juz amma sebagai syarat kelulusan.Program ini dilaksanakan sehabis sholat dzuhur dan dengan lokasi yang sama.

3) Mewajibkan siswa melaksanakan ibadah-ibadah tertentu di sekolah dengan bimbingan guru. Misalnya rutin melaksanakan salat dzuhur berjamaah yang telah lama kami terapkan walaupun disaat jam itu pembelajaran masih berlangsung akan tetapi kita sebagai pendidik ada yang memberikan izin terhadap peserta didiknya untuk melaksanakan sholat dimasjid.

4) Menyediakan tempat ibadah yang layak bagi kegiatan keagamaan, seperti disediakannya mushola agar para dapat memudahkan peserta didik melakukan ibadah.

5) Membiasakan akhlak yang baik di lingkungan sekolah dan dilakukan oleh seluruh masyarakat sekolah. Misalnya saja program setiap pagi saat pendidik akan bertugas menjadi guru piket maka dianjurkan kita menerapakan 3S yaitu salam, sapa, dan senyum kepada peserta didik agar mereka dapat merenspon dengan baik dengan ekspresi yang kita berikan.

6) Dan sebaiknya semua guru dapat mengimplementasikan pendidikan agama dalam keseluruhan materi yang diajarkan sebagai wujud pendidikan karakter secara menyeluruh. Jika beberapa hal tersebut dapat terlaksana maka tujuan pendidikan nasional dalam menciptakan anak didik yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dapat dengan mudah tercapai.

Sekian laporan hasil bacaan dan saya juga sempat berbagi pengalaman maaf jika ada salah kata atau salah dalam pengetikan saya mohon maaf. Semoga ini bermanfaat bagi para pembaca sekian dari saya ucapakan terima kasih.

Senin, 19 April 2021

PENDEKATAN DAN METODE PENDIDIKAN ISLAM

PENDEKATAN DAN METODE PENDIDIKAN ISLAM

(Sebuah Perbandingan dalam Konsep Teori Pendidikan Islam dan Barat)

Nama : Assya Nurlansa 
NIM :1901178
Kelas : PAI4B
Makul :  1 

Hallo guys

Apa kabar kalian? 

Kembali lagi pada blog kali ini saya akan melaporkan hasil bacaan yang telah saya baca pada minggu ini yang berjudul               " PENDEKATAN DAN METODE PENDIDIKAN ISLAM" (Sebuah Perbandingan dalam Konsep Teori Pendidikan Islam dan Barat) Oleh Nurjannah Rianie. 

Dan kalian bisa lihat langsung  dari link jurnal dibawah ini

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://core.ac.uk/download/pdf/327227722.pdf&ved=2ahUKEwjB3aqc-YvwAhVHzzgGHSylBAIQFjAAegQIBhAC&usg=AOvVaw0YhrsEb2en1KGcAzfZRvaD

Pertama,  disini saya akan memberikan sedikit pengertian tentang pendidikan islam terlebih dahulu. Pendidikan islam yaitu sebuah sistem adalah suatu kegiatan yang didalamnya mencakup aspek tujuan, kurikulum, guru, metode, pendekatan, sarana prasarana, lingkungan, adminstrasi, dan sebagainya yang antara satu dan lainnya saling berkaitan dan membentuk suatu sistem. Dalam pendidikan islam pendidikan dan metode adalah hal yang terpenting. Bahkan dengan adanya dua hal ini pengajar dapat menyalurkan ilmu kepada peserta didik, terlebih lagi keutamaan dengan adanya metode memudahkan para peserta didik dengan mudah memahami  jika dibandingkan dengan materi. Makanga ada sebuah adigum yang mengatakan bahwa ‘al-Thariqat Ahamm Min al-Maddah’ (metode jauh lebih penting dibanding materi).

Didalam penerapan dan metode pembelajaran yang tepat sangatlah mempengaruhi pencapaian keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dan metode yang tidak tepat akan berakibat pada peserta didik karena ini berpengaruh pada pemahaman mereka akan materi yang diberikan. Kita bise melihat sebuah kenyataan  bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih efektif atau bisa dikatakan berhasil dan  disenangi oleh peserta didik walaupun sebenarnya materi yang disampaikan sebenarnya tidak terlalu menarik. Sebaliknya juga jika sebagus apapun materi yang akan kita berikan kepada peserta didik kalau cara ataupun metodenya kurang tepat  maka semua itu tidak akan bisa dicerna oleh peserta didik, dan itu akan mengahasilkan pembelajaran yang percuma karena hanya dilakukan sepihak. 

Lanjut pada bahasan berikutnya yaitu kita akan membahas lebih dalam lagi tentang pengertian pendekatan dan metode dalam pendidikan pertama kita akan membahas pengertia pendekatan terlebih dahulu. 

Pengertian pendekatan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendekatan merupakan  proses perbuatan, cara mendekati ataupun dalam artian lain yaitu usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Sedangkan dalam bahasa inggris pendekatan diistilahkan dengan “approach" .

Dan pengertian pendekatan  menurut para ahli.  Salah satunya Menurut Ramayulis dan Samsul Nizar (2009:209) mengemukan, pendekatan (approach) merupakan pandangan falsafi terhadap subjec-matter yang harus diajarkan dan selanjutnya melahirkan metode belajar. Bila dikaitkan dengan pendidikan, pendekatan berarti serangkaian asumsi mengenai hakikat pendidikan Islam dan pengajaran agama Islam serta belajar agama Islam. Dan dapat disimpulkan bahwa pendekatan merupakan proses kegiatan yang dilakukan dalam hal mendekati sesuatu.

 Jika dikaitkan dengan pendekatan pendidikan berarti suatu proses kegiatan, perbuatan, dan cara mendekati bidang pendidikan sehingga mempermudah pelaksanaan kegiatan pendidikan tersebut. Jika dalam kegiatan pendidikan, metode berfungsi sebagai cara mendidik, maka pendekatan berfungsi sebagai alat bantu agar penggunaan metode tersebut mengalami kemudahan dan keberhasilan. Jadi yang bisa dipahami disini adalah metode dan pendekatan  sangatlah berperan penting dalam dunia pendidikan karena dengan adanya cara dan  alat bantu menjadikan proses belajar mengajar ditambah lagi dengan sarana dan prasarana yang memadai memudahkan pendidik dan peserta didik bisa mencapai tujuan dalam pembelajaran yaitu mencerdaskan generasi anak bangsa dan berakhlak mulia. 

Lanjut dengan pengertian metode. Ternyata kata metode berasal dari Yunani Kata metode atau metoda berasal dari bahasa Greek (Yunani). Dan secara etimologi, kata metode berasal dari dua suku perkataan yaitu metha dan hodos. Metha berarti melalui atau melewati, dan hodos berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam bahasa Arab metode dijabarkan dalam berbagai kata. Terkadang digunakan kata al-thariqah, Manhaj, dan al- Wasilah. Al-thariqah berarti jalan, Manhaj berarti sistem, dan al-Wasilah berarti perantara atau mediator. Jika metode dikaitkan dengan pendidikan agama islam dapat memberikan efek tersendiri dapat membawa  sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang peserta didik sehingga dapat terlihat dalam pribadi masing-masing, yaitu pribadi Islami. Sedangkan metode pendidikan agama islam adalah bagaimana cara kita bisa memahami ajaran agama islam. Terlebih zaman semakin modern dan membuat seiring waktu pendidikan agama dikesampingkan padahal dengan adanya pendidikan agama islam dengan menggunakan metode yang baik akan mengembangkan ajaran islam.

Ada beberapa jenis metode dan pendekatan dalam pendidikan, seperti :

  • Pendekatan Filosofis
  • Pendekatan Induksi-Deduksi
  • Pendekatan Sosio-Kultural
  • Pendekatan Fungsional 
  • Pendekatan Emosional 

Pada pendekatan filosofis bisa disimpulkan sebagai sumber yang didasari oleh Al-Qur'an dan As-sunnah. Dan ini merupakan dasar dari sebuah pendekatan. Berbanding terbalik dengan keadaan dibarat karena landasan itu didasarkan pemikiran dari seorang ahli, hasil penelitian, bahkan lainnya.  Dalam proses ngajar mengajar pendekatan filosofis sumber dari Al-Qur'an telah banyak memberikan penjelasan berupa hal atau peristiwa  kecil maupun peristiwa besar. Seperti pengajaran yang bisa diterapkan adalah bagaimana proses terjadinya manusia, Bagaimana kejadian alam semesta,  tumbuhan,  binatang dan makhluk hidup lainnya. Dan terjadilah interaksi antar pendidik dam peserta didik dan ini juga bertujuan agar peserta didik dapat mengoptimalkan pemikirannya sehingga nantinya peserta didik akan terbiasa berfikir secara kritis dan bisa memanfaatkannya sepanjang waktu jika telah terbiasa. 
Pendekatan induksi-dedukasi , terbagi menjadi dua bahasa mari kita bahas induksi terlebih dahulu. Induksi adalah suatu pendekatan yang menentukan kaidah umum berdasarkan kaidah-kaidah khusus. Sedangkan dedukasi adalah perbandingan terbalik dengan induksi yaitu pendekatan yang cara berfikir analisa ilmiah yang bergerak dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus. Pendekatan deduksi ini paling banyak dipakai dalam logika klasik Aristoteles yaitu dalam bentuk sylogisme yang menarik simpulan.  Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk membuat peserta didik bisa mengambil simpulan bukan hanya secara umum tapi juga secara khusus. 

  • Ketiga,  pendekatan sosio-kultural,  pendekatan ini berpusat pada pandangan bahwasanya manusia itu adalah makhluk sosial yang beragam kebudayaannya. Seperti yang kita ketahui manusia tidak bisa hidul sendirian karena manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendirian dan membutuhkan bantuan manusia lainnya. Nah pendekatan ini bisa dibilang telat untuk peserta didik untuk meningkatkan sifat kebersamaannya dengan yang lain bahkan juga dengan lingkungan. 
  • Keempat ada pendekatan fungsional. Tentunya dilihat dari sisi fungsinya, yaitu kaitannya dengan pendidikan Islam adalah “penyajian materi pendidikan Islam dengan penekanan pada segi kemanfaatannya bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari”.
  • Terakhir,  pendekatan emosional yang merupakan bagian penting dalam sisi pembelajaran sebab dengan adanya rasa emosional akan memberikan sentuhan rohani kepada peserta didik yang akan berpengaruh dan memacu rasa semangat dalam belajar maupun dalam beribadah. Dapat dipastikan bahwa ketika kita memiliki emosi dan emosi itu  selalu berhubungan dengan perasaan, jika disentuh perasaannya, secara tak langsung emosinya juga akan tersentuh. 

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman tentang pendekatan emosional ini. Dulu ketika saya masih berada dibangku SMA alhamdulillah saya mengikuti salah satu organisasi sekolah yang dikenal dengan Rohis (Rohani Islami). Kemudian setelah ikut gabung dengan peserta lainnya ternyata dirohis tersebut memiliki agenda khusus tahunan. Apakah itu? Yaa.. Agenda tahunan itu bernama " Takafur Alam" yang banyak sekali menarik minat para siswa-siswi disekolah tersebut.  Merasa orang yang sangat beruntung dapat bergabung dalam rohis saya bersama teman memutuskan untuk join . Awalnya kami tidak tahu kalau tujuan kami dipesisir pantai dan saya mengira ini hanya liburan semata. Ternyata perkiraan itu berbanding terbalik dengan kenyataannya. Dalam kegiatan 3 hari 2 malam tersebut kami disungguhkan dengan pemandangan pantai, bukit serta lautan yang begitu luas dan itu membuat saya kepikiran betapa besarnya kuasa-mu Ya Rabb.. 

Pengalaman pertama kali yang berkesan ketika kami melakukan sholat berjamaah ditepi pantai. Dengan cuaca yang medukung ditambah angin yang sepai-sepoi diiringi dengan suara gelombang yang kecil membuat saya terharu dan menangis, sadar betapa nikmatnya beribadah dihadapan Allah dengan beradai dialam yang terbuka. Terlebih lagi kami juga sempat menaiki bukit dan kebetulan waktu itu masih tengah malam. Terbayang masih gelap gulita menaiki bukit tapi ketika berada disana semua rasa itu terbalaskan. Sesampainya kami hampir berada dipuncak bertepatan dengan waktu subuh. Dan kami memutuskan melaksanakan sholat subuh disana dan lagi kami terharu akan Kuasa Allah yang begitu luar biasa dan perasaan ini sungguh sangat menyentuh sehingga secara tidak langsung rasa emosional dalam keadaan itu hadir. Ditambah lagi ceramah yang diberikan oleh para mentor dan senior membuat keadaan menjadi semakin emosional. Banyak hal yang bisa diambil dari pengalaman tersebut yang tetap saya ingat adalah semua makhluk menyembah Allah dan kita sebagai makhluk yang diciptakan dalam keadaan yang sempurna dibandingkan yang lain, apakah masih bisa meninggalkan kewajiban shalat padahal manusia yang telah meninggal saja ingin dihidupkan kembali agar bisa menyembah/sujud kepada Allah. Sungguh pembelajaran ini sangat berharga teringat dengan pendekatan emosional tersebut dengan memanfaatkan keadaan secara tak langsung membuahkan sebuatmh emosional rohani yang membuat kita sadar dan memacu diri agar menjadi hamba yang bertakwa.

Jenis Metode Pendidikan

Dalam dunia barat banyak sekali metode yang berkembang seperti metode ceramah, tanya jawab, diskusi, sosio drama, bermain peran, pemberian tugas dan sebagainya. Langsung saja kita kependapat para ahli,  salah satunya dari Abdurrahman Saleh Abdullah (2005:205-220) yang mengemukakan beberapa metode pendidikan, yaitu:

  • Metode cerita atau berceramah,  seperti yang kita ketahui metode ini sering sekali dijadikan cara efektif yang dilakukan pendidik untuk menyampaikan pesan dalam suatu pembelajaran. Dengan cara penyampaian melalui lisan yang bisa berupa penjelasan, rangkuman bahkan sampai kisah peristiwa penting.  Menurut saya tujuan dari metode ini adalah terjadinya timbal balik (feedback)  antara pendidik dan peserta didik dikarenakan proses mengajar yang terjadi secara langsung. Terlebih bagi peserta didik yang dominan memiliki pemahaman dalam suatu pembelajaran melalui indra pendengaran, dalam teori The Cone Of Learning  kemampuan mendengar memiliki persentase 20%. Bisa jadi peserta didik lebih paham jika dijelaskan secara langsung daripada membaca suatu materi yang hanya 10% persentase pemahamannya dan menjadikan ini termasuk salah satu metode yang efektif.
  • Metode  Diskusi, yaitu suatu sistem pembelajaran yang dilakukan dengan cara berdiskusi. Dalam metode ini pertanyaan yang diberikan mengandung suatu masalah atau berupa pertanyaan dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan sekedar jawaban belaka bahkan dalam diskusi tak jarang terjadi debat antara si penanya dan sipenjawab.
  • Metode Tanya jawab dan Dialog, yaitu penyampaian pembelajaran yaitu dengan pendidik mengajukan suatu pertanyaan dan peserta didik menjawabnya atau berdialog dengan cara saling bertukar fikiran. 
  • Metode Perumpamaan atau Metafora. Yaitu suatu penjelasan yang bersifat abstrak dan dijelaskan berupa contoh ataupun gambaran yang jelas sehingga peserta didik bisa memahami dengan jelas maksud dari suatu perumpamaan tersebut. 
  • Metode hukuman atau ganjaran, metode terakhir ini sebenarnya memiliki efek yang memberikan sisi baik dan buruknya. Efek baiknya dari adanya hukuman ini adalah adanya rasa jera kepada peserta didik sehingga mereka tidak mau melakukan kesalahan lagi.  Sedangkan efek buruknya bisa saja memberikan efek takut bahkan trauma. Yang harus diperhatikan dalam metode ini adalah hukuman adalah metode kuratif artinya tujuan hukuman untuk memperbaiki peserta didik dan bukan untuk balas dendam, hukuman digunakan apabila metode yang lainnya telah diterapkan tapi tidak berhasil, sebelum dijatuhi hukuman peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya, hukuman yang dijatuhkan kepada peserta didik, hendaknya dapat dimengerti oleh peserta didik, sehingga ia sadar akan kesalahannya.

Sedangkan menurut teori dibarat saya mengambil dari penjelasan Froebel melalui aliran pendidikannya “Froebelianisme” menyatakan metode pendidikan yang terdiri atas lima langkah formal dalam pendidikan, yaitu: 

  • Pengarahan kegiatan sendiri.
  • Permainan sebagai pernyataan diri       (self expression).
  •  Menggambar
  • Ritme dan kegiatan-kegiatan  yang bersifat penghalusan. 

Sekian laporan bacaan saya semoga yang melihat dan membacanya mendapatkan manfaat serta berkah.  Sekian dari saya Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Senin, 12 April 2021

Laporan Bacaan : Full Day School dalam Sistem Pendidikan (Magang 1)

Nama : Assya Nurlansa 

NIM : (11901178)

Prodi/kelas : PAI 4B


Assalamua'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...

Haloo apa kabar?

Senang sekali pada kesempatan kali ini kita bisa bertemu lagi, saya berharap kita dalam keadaan  sehat wal'afiat serta dengan suasana hati yang damai dan berbahagia.

Baiklah langsung saja,  Pada kali ini saya akan mengungkit perihal yang dulunya sempat kontroversi terkait perihal "Fullday school". Sudah tak asing bukan dengan kata Fullday scholl ini, apa yang terpikirkan oleh teman-teman  setelah mendengar kata fullday school ini? Bahkan salah satu dari kita ada yang pernah melalui masa ini dan yang pastinya menuai berbagai macam pendapat serta argumen bukan... 

Nah kebetulan bacaan minggu ini, berupa artikel yang bertema "Full Day School dalam Sistem Pendidikan Indonesia" yang dilansir oleh Center for Indonesian Policy Analysis.

Untuk lebih jelasnya lagi kalian bisa lihat disitusnya langsung ya teman  https://cipa.or.id/full-day-school-dalam-sistem-pendidikan-indonesia/ 

Singkatnya saja artikel ini berisi tentang keadaan sistem pendidikan di Indonesia terlebih dengan hadirnya suatu wacana yang diungkapkan yang dulunya sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan  yaitu bapak Muhadjir Effendi. 

Seperti yang kita ketahui Full day school dapat diartikan dimana siswa-siswi melakukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan seharian penuh yaitu sekitar dari jam 07.00- 16.00. Artikel ini juga membahas tentang permasalahan yang sempat dihadapi dalam sistem pendidikan itu sendiri.  Setiap keputusan pastinya memiliki konsekuensi dan terdapat dampak positif dan negatifnya. Tetapi, walaupun sekarang sudah terlaksanakannya masih saja kita teringat akan perubahan waktu jam belajar dulu VS sekarang. 

Dengan hadirnya suatu kebijakan full day school di Indonesia sebenarnya kebijakan ini jauh sebelumnya telah lama diterapkan oleh bangsa barat terlebih mereka termasuk negara maju. Negara itu antara lain, yang pertama ada Singapura negara yang termasuk dalam kawasan Asia Tenggara terlebih lagi luas negara ini sangatlah kecil jika diumpamakan luas negara tersebut kurang lebih seperti pulau Bali.

Kecil bukan dibanding negara kita. Ets... Jangan remehkan walaupun negara yang kecil tetapi negara mereka sangatlah unggul dalam melaksanakan kebijakan full day school. Yang membuat anak-anak disana menjadi lebih kompeten dalam belajar. Kedua,  ada negara Amerika Serikat, Negara yang biasa disapa negara paman sam ini juga sangat memproritaskan pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat anak dengan ini sasaran anak menjadi lebih jelas kedepannya maka akan mempermudah anak dalam mempelajari hal yang digemarinya. Ketiga ada negara Korea Selatan yang terkenal dengan sebutan negara ginseng dan genre musik K-pop yang begitu mendunia akan tetapi mereka juga sangat memperhatikan sistem pendidikannya. Selain itu ada juga negara China, Jepang, Taiwan yang lebih menekankan sistem belajar yang bisa dibilang work hard atau lebih menekankan dalam hal pendidikan. Selain belajar pada tingkat masing-masing serta jam pelajaran mereka juga disesuaikan tingkatannya, terlebih belum lagi ditambah dengan jadwal pelajaran tambahan dari sekolah ataupun les privat yang dilakukan setelah pulang dari sekolah belum lagi bagi siswa  yang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Yaa.. bisa dibilang sama seperti di Indonesia akan tetapi saya rasa dulunya masih sulit untuk beradaptasi dengan kebijakan yang belum lama ini. 

Mengingat tujuan pendidikan sekolah formal yang lebih menetapkan keputusan diakhir bisa dibilang lebih fokus kepenilaian ujian akhir semester yang nantinya akan menjadi penentu nilai kita nantinya. Seperti yang kita alami dari SD-SMA adanya ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan umum,  UTBK untuk anak SMA.

Nah ada juga nih..  sistem yang telah lama dianut oleh sekolah mana pun.

Apakah itu?  

Yups.. rangking ataupun peringkat dan inilah yang akan menjadi patokan seorang siswa. Hal ini yang bisa dilihat dan diukur secara jelas dari kemampuan masing-masing. Efek positifnya memang memacu  anak untuk giat belajar agar mendapatkan hasil terbaik dan terutama jika seorang anak itu berniat untuk membuktikan kepada orangtuanya agar hadir dengan rasa bangga. Terlebih jika anak itu dijanjikan akan mendapat imbalan/hadiah maka sang anak pasti dengan sangat gigih untuk mencapai tujuan tersebut. 

Berbanding terbalik dengan Negara barat mereka tak menganut sistem ranking karena tujuan sebenarnya adalah benar-benar mengkaji suatu pelajaran bukan terfokus akan persaingan dalam mendapatkan nilai yang lebih tinggi takutnya dengan adanya rasa terlalu ambisius yang bisa mendapat efek buruk pada siswa jika tak dapat menyesuaikan dengan kemampuannya dengan siswa yang lainnya yang bisa berakibat fatal seperti dibawah tekanan atau stress.

Kembali lagi pada bahasan sistem pendidikan di Indonesia yang belum sepenuhnya stabil mengingat negara Indonesia adalah termasuk dalam list nomor ke-4 dengan negara terpadat didunia dengan populasi penduduk Indonesia mencapai sekitar 200an jt penduduk yang sangat memungkinkan muncul masalah internal ditambah lagi masalah yang dulunya belum sempat terselesaikan. Banyak sekali hal yang seharusnya dapat diprorioritaskan seperti dengan dihadirkannya pemerataan kebutuhan sarana dan prasarana disekolah yang berada dijangkauan jauh seperti di desa bahkan diplosok negri.

Menurut saya memang sulit bagi pemerintah untuk mengoptimalkan kinerja dalam hal pendidikan dengan rintangan yang begitu terjal ditambah lagi dengan adanya kebijakan full day school membuat sekolah akan menjadi beban baik kepada guru ataupun murid, dan kini kita hanya bisa menyesuaikan dengan keadaan dan waktu secara bersamaan. 

Setelah membahas sistem pendidikan di Indonesia yang menerapkan sistem full day school,  kali ini masih dengan bahasan yang sama ya teman..cuman ini hanya sedikit opini dalam mengkaji kembali penerapan kebijakan full day school  yang dilansir oleh Akuratnews.com dan untuk lebih jelasnya kalian bisa liat disitusnya langsung ya teman https://akuratnews.com/mengkaji-kembali-penerapan-kebijakan-full-day-school/ 

ini juga menyangkut  perihal dari beberapa perwakilan yang memberikan sudut pandangan mereka masing-masing terkait kebijakan yang dikeluarkan pemerintah ini.

Pada laman blog kali ini saya juga akan memberikan sedikit tanggapan tentang penerapan kebijakan full day school.

Seperti yang kita ketahui dalam penerapan kebijakan full day school tak sedikit dari kita yang pernah mengalami kebijakan fullday. Bahkan saya pribadi hampir mengalami hal tersebut tapi untungnya pada masa sekolah saya dulu belum sepenuhnya dilaksanakan sebab masih terkendala waktu dan perlunya pertimbangan yang matang oleh pihak sekolah. 

Mengingat menurut peraturan  Menteri nomor 23 tahun 2017 yang menjelaskan bahwa pada hari sekolah dilaksanakan 8 jam dalam 1  hari atau 40 jam selama 5 hari dalam 1 minggu.

Wah.. padat yaa teman tapi memang seperti itulah gambarannya.

Terbayang bagaimana aktivitas belajar seperti apa yang kita lakukan dengan waktu yang begitu lama, apakah kita bisa fokus selama 8 jam tersebut?  Dapatkah kita menerima setiap penjelasan yang guru berikan kepada kita? Dan yang terpenting apakah efektif jika ini dilakukan? Serta dampak apa saja yang dialami oleh siswa setelah melaksanakan kegiatan full day school ini.  

Mungkin akan lebih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan dengan membahas full day school ini.  Terlebih dari sudut pandang yang kita lihat dari salah satunya yaitu menurut Ketua Umum PKB Muhamin Iskandar, yang menolak adanya kebijakan full day school ini yang mana beliau berpendapat ini sangat mempengaruhi kegiatan Madrasah dan Pondok  Pesantren. 

Seperti yang kita ketahui kegiatan dipondok pesantren amatlah padat dan kegiatan ini start dari subuh sampai dimalam hari. Yaa mungkin sama dengan anak sekolah yang diluar tetapi ada perbedaan yang sangat tampak bagi anak pesantren sebab jadwal mereka tidak hanya belajar ilmu umum tapi juga dengan ilmu agama, terlebih lagi ada jam tambahan dalam mendalami ilmu agama. Dan belum lagi ada hal-hal lainnya. Saya paham betul dengan keadaan maupun jadwal dipondok pesantren bukan karena apa sebab saya dulu pernah mondok walau hanya 3 tahun dan tepatnya saat itu  saya berada di Madrasah Tsamawiyah (MTS). Dulu saja jam sekolah dimulai dari pukul 07.00- 14.00 bahkan jika dihari besar lebih tepatnya dihari jum'at bisa saja pulang pukul 15.00. Hampir mirip bukan dengan schedule kebijakan full day school.

 Mungkin ada alasan tertentu makanya pak Muhamin berargumen seperti itu jelas saya juga setuju yang mana jadwal harian santri yang harusnya telah disesuaikan jika ada kendala maka akan berpengaruh pada kegiatan selanjutnya yang mana seharusnya aktivitas disekolah tak sepenuhnya mendominasi harian mereka. Terutama pada anak santri dikhawatirkan kedepannya akan berefek dan  tidak dapat menyesuaikn diri, selain menguras waktu, tenaga dan pikiran ini juga akan berpengaruh pada psikis anak. Terlebih lagi jika belajar dalam jangka waktu yang lama akan berdampak dari segi psikologi anak dan alhasil belajar menjadi tidak efektif. 

Mengingat pandangan Neurosains. 

Sekedar info nih teman, terkait Neurosains. Apakah kalian pernah mendengar kata Neurosains ini?  Bagi kalian yang baru mendengar kata Neurosains mungkin agak sedikit asing terdengar tapi asal kalian tahu teman Neurosains adalah ilmu yang mempelajari terkait fungsi sistem saraf. Yang mencakup beberapa fungsi,  perkembangan, genetika dan lainnya.  

Nah maka dari itu, tidak memungkiri terjadinya kelelahan yang dialami oleh siswa belum lagi rasa jenuh yang mudah menghampiri yang membuat aktivitas belajar akan terhambat dan bukannya mendapat ilmu tambahan tapi hanya rasa lelah yang tersisa.  Mendapatkan waktu jam belajar yang tepat akan mempengaruhi kinerja otak anak sehingga dapat memudahkan anak untuk memahami suatu pelajaran. Ditambah dengan siswa yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik akan mengoptimalkan pelajaran yang bisa dikembangkan dengan baik kedepannya. 

Disisi lain full day school memiliki trobosan yang besar seperti negara maju yang telah lama menerapkan sistem ini dan bisa menumbuh kembangkan serta terciptanya sumber daya manusia yang berkarakter dimasa mendatang. Bisa jadi negara Indonesia perlahan kedepannya bisa berubah yang dari negara berkembang menjadi negara maju Aamiin... kita doakan bersama ya teman yang terbaik untuk negri tercinta. Dan menurut saya semua kebijakan pastinya memiliki tujuan tertentu dan sisi positif  negatif tergantung pada bagaimana kita bisa menghadapinya dengan situasi dan kondisi yang mendukung juga berpengaruh untuk menentukan jalannya sebuah perubahan. Yang terpenting kesinkronan juga perlu diperhatikan mengingat sarana dan prasarana masih ada yang belum memadai  terlebih terkait dalam kebijakan full day school dengan sarana prasarana yang memadai bisa saja memanimalisir sedikit permasalahan yang dihadapi dengan kegiatan yang full seharian disekolah akan memungkinkan murid senang bisa berada disekolahan. 

Sekian bahasan kali ini maaf jika ada salah kata atau typo harap dimaklumi saya akan berusaha untuk lebih baik kedepannya.

Sekian... Terimakasih untuk kali ini karena sudah mampir diblog saya. Tetap jaga kesehatan dan selalu tersenyum. 

Salam dari saya Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

  NAMA             :   Assya Nurlansa NIM                 : 11901178 KELAS            : PAI 4 B MAKUL          : Magang 1 (Laporan Bacaan/p1...