Laporan Bacaan Magang 1
Assya Nurlansa (11901178)
PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apa kabar sahabat pada kali ini?
sudah hampir satu bulan bukan kita tak berjumpa dan kini kita dipertemukan lagi dengan laporan hasil bacaan saya pada minggu ini.
Saya berharap kita selalu diberikan kesehatan serta kemudahan dalam menjalani hari.
Nah... pada kali ini saya akan membahas tentang PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM yang teman-teman bisa lihat dari link sebagai berikut:
https://media.neliti.com/media/publications/195611-ID-pembentukan-karakter-melalui-pendidikan.pdf
Pertama kita akan mengingat kembali
tentang apa itu Karakter?
Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan
yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta
didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan,
serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.
Pendidikan karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus untuk kearah hidup yang lebih baik. Terlebih sekarang dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini telah banyak terjadi krisis moral yang terjadi ditengah – tengah masyarakat maupun dilingkungan pemerintah yang semakin meningkat dan beragam jenisnya. Contohnya saja seperti tindakan kriminalitas, ketidakadilan, korupsi, kekerasan pada anak, pelangggaran HAM hal tersebut menjadi bukti bahwa telah terjadi krisis jati diri dan karakteristik pada bangsa Indonesia. Terkadang telah banyak upaya yang ingin bahkan telah dilakukan agar dapat mengatasi masalah yang ada pada terkhususnya peserta didik, sebab peserta didik adalah calon bibit harapan bangsa dikehidupan berikutnya maka dari itu peran pembentukan karakter sangat diperlukan terlebih melalui Pendidikan Agama Islam.
Akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan manusia yang menjadi
penentu keberhasilan bagi potensi pedagogis yang lain. Prinsip akhlak terdiri
dari empat hal yaitu:
1.
Hikmah ialah situasi keadaan psikis dimana seseorang dapat membedakan
antara hal yang benar dan yang salah.
2.
Syajaah (kebenaran) ialah keadaan psikis dimana seseorang melampiaskan
atau menahan potensialitas aspek emosional dibawah kendali akal.
3.
Iffah (kesucian) ialah mengendalikan potensialitas selera atau keinginan
dibawah kendali akal dan syariat.
4.
‘adl (keadilan) ialah situasi psikis yang mengatur tingkat emosi dan
keinginan sesuai kebutuhan hikmah disaat melepas atau melampiaskannya
Jadi prinsip akhlak diatas menegaskan bahwa fitrah jiwa manusia terdiri dari potensi nafsu yang baik dan potensi nafsu yang buruk, tetapi melalui pendidikan diharapkan manusia dapat berlatih untuk bisa mengontrol semua perbuatannya.
Tujuan utama Pembelajaran PAI adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan sehari-hari. Serta Pendidikan Agama Islam juga berperan penting yang mana bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia.
Indikator keberhasilan pendidikan Karakter adalah jika seseorang telah mengetahui sesuatu yang baik (knowing the good) yang bersifat kognitif, kemudian mencintai yang baik (loving the good) bersifat afektif dan terakhir dapat melakukan yang baik (acting the good) yang bersifat psikomotorik.
Keberhasilan
pembelajaran PAI disekolah salah satunya juga ditentukan
oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat. Proses belajar mengajar
diharapkan dalam pendidikan akhlak adalah lebih kepada mendidik bukan hanya
sekedar mengajar. Mendidik berarti proses pembelajaran lebih diarahkan kepada
bimbingan atau berupa sebuah nasihat. Membimbing dan menasehati berarti
mengarahkan peserta didik terhadap pembelajaran nilai-nilai sebagai tauladan
dalam kehidupan nyata, jadi bukan sekedar menyampaikan yang bersifat
pengetahuan saja. Tujuannya juga agar peserta didik bisa mengamalkan
pembelajaran yang telah didapatnya ketika disekolah, jadi ini berbuahkan hasil
yang baik karena adanya proses yang baik
Sempat terpikirkan jika pembelajaran PAI ini posisinya bukanlah salah satu materi yang menjadi standar kelulusan bagi siswa dan berpengaruh terhadap peserta didik dan pendidik dalam pembelajarannya. Hal inilah menyebabkan pelajaran PAI dianggap remeh bahkan hanya sekedar menjadi pelengkap pembelajaran saja dan perlu diketahui lagi untuk poisisi pelajaran agama islam Ketika SD-SMA menepati posisi 1 dalam buku rapot yang menandakan pelajaran ini adalah mata pelajaran yang penting dibandingkan mata pelajaran lainnya. Mengingat lagi pembelajaran PAI hanya dilakukan didalam kelas saja yang dibatasi oleh waktu pelajaran setiap minggu, parahnya lagi evaluasi PAI hanya dilakukan dengan tes tertulis.
Usaha untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, di antaranya terlebih dahulu mencapai tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam. Tujuan pembelajaran juga dapat diartikan juga sebagai tujuan operasional atau tujuan praktis yang dapat dicapai melalui sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Contohnya saja yang pernah saya alami ketika masa SMA.
Jadi saya ingin berbagi cerita
sedikit mengenai pengalaman belajar saya, ketika itu pembelajaran agama
islam biasanya dilaksanakan atau dilakukan hanya satu kali dalam seminggu
syukurnya pembelajaran ini dilaksanakan dengan waktu yang panjang yaitu 3 jam,
yang mana hitungannya untuk per 1 jam dihitung selama 45 menit, jadi dalam
seminggu kami hanya mendapatkan waktu 135 menit untuk belajar agama. Terlebih lagi
kelas saya dapati ternyata guru yang mengampu mata pelajaran Agama Islam tersebut
merupakan alumni pesantren yang membuat pelajaran yang biasanya dilakukan untuk
anak tingkat SMA rasa saya agak berbeda dari yang lainnya. Seperti contoh saja
setiap mata pelajaran agama diwajibkan para siswa untuk membawa Al-Qur’an dan
tugasnya kami biasnya disuruh mengaji dalam urutan acak. Kemudian terdapat pembelajaran
dasar yaitu bagaimana tata cara berwudhu yang benar dan disertai doanya, terlebih
lagi kami wajib untuk menghapalkan doa tersebut karena ini termasuk dalam nilai
ujian praktek. Dari ini yang saya maksud adalah pentingnya
pendidikan karakter pada peserta didik, karena karakter seseorang muncul dari
sebuah kebiasaan yang berulang-ulang dalam waktu yang lama serta adanya teladan
yang bisa didapatkan. Hapalan yang kami lakukan bukan hanya sekedar mengejar
nilai semata jika ini dilakukan dengan niat yang baik agar wudhu kami diterima
setiap anggota badan yang dibasuh maka saya yakin sampai sekarang pun ingatan
bacaan doa wudhu tersebut masih diamalkan sampai sekarang. Dan itu merupakan
salah satu pembiasan yang dilakukan dalam pembelajaran dikelas.
Selain itu Sedangkan upaya yang dapat
dilakukan sekolah dalam memaksimalkan pembelajaran PAI di sekolah di antaranya:
1) Dibutuhkan guru yang profesional dalam arti
mempuni dalam keilmuannya, berakhlak dan mampu menjadi teladan bagi siswanya.
Seperti yang saya katakan tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu tapi juga
berperan dalam membimbing peserta didik.
2) Pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas
tetapi ditambah dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang
dilaksanakan dengan serius sebagai bagian pembelajaran. Dan ini juga termasuk
salah satu upaya yang dilakukan oleh guru agama saya ketika SMA terkhususnya
bagi anak yang mengikuti kegiatan Rohani Islami
atau yang biasa disebut dengan Rohis. Jadi program pembelajaran yang
dilaksanakan setiap pagi sebelum bel masuk kelas kami mengadakan pembelajaran
itu didepan masjid sekolah. Berhubungan lokasi sekolah kami berada dijalan raya
dan didepan sekolah tepat adanya masjid memudahkan kami untuk fokus belajar
mengaji dan mempelajari hukum tajwid yang dibimbing oleh guru agama kami.
Memang diawal diluar pembelajaran ini sangat sedikit
sekali yang mengikuti mengingat terlalu pagi dan para siswa memiliki kesibukannya
masing-masing. Kemudian lama kelamaan ini berproses dan memberikan pengaruh
yang baik sebab pembelajaran untuk mendalami Qur’an tak mungkin kami dapatkan
dikelas karena keterbatasan waktu.
Dan ternyata anak SMP juga mendapatkan hal yang sama
juga bahkan lebih dari kami karena program yang mereka ikuti tersebut merupakan
program wajib langsung dari sekolah. Mereka sangat beruntung karena apa? Karena
mereka mendapatkan pembelajaran lain selain pembelajaran Qur’an yaitu seperti
pembelajaran fiqih, nahwu shorof, dan wajib menghapalkan juz amma sebagai
syarat kelulusan.Program ini dilaksanakan sehabis sholat dzuhur dan dengan
lokasi yang sama.
3) Mewajibkan siswa melaksanakan ibadah-ibadah
tertentu di sekolah dengan bimbingan guru. Misalnya rutin melaksanakan salat dzuhur
berjamaah yang telah lama kami terapkan walaupun disaat jam itu pembelajaran
masih berlangsung akan tetapi kita sebagai pendidik ada yang memberikan izin
terhadap peserta didiknya untuk melaksanakan sholat dimasjid.
4) Menyediakan tempat ibadah yang layak bagi kegiatan
keagamaan, seperti disediakannya mushola agar para dapat memudahkan peserta
didik melakukan ibadah.
5) Membiasakan akhlak yang baik di lingkungan sekolah
dan dilakukan oleh seluruh masyarakat sekolah. Misalnya saja program setiap
pagi saat pendidik akan bertugas menjadi guru piket maka dianjurkan kita
menerapakan 3S yaitu salam, sapa, dan senyum kepada peserta didik agar mereka
dapat merenspon dengan baik dengan ekspresi yang kita berikan.
6) Dan sebaiknya semua guru dapat mengimplementasikan
pendidikan agama dalam keseluruhan materi yang diajarkan sebagai wujud
pendidikan karakter secara menyeluruh. Jika beberapa hal tersebut dapat
terlaksana maka tujuan pendidikan nasional dalam menciptakan anak didik yang
beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab dapat dengan mudah tercapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar