Selasa, 08 Juni 2021

PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Laporan Bacaan Magang 1
Assya Nurlansa (11901178)

PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Apa kabar sahabat pada kali ini? 

sudah hampir satu bulan bukan kita tak berjumpa dan kini kita dipertemukan lagi dengan laporan hasil bacaan saya pada minggu ini.

Saya berharap kita selalu diberikan kesehatan serta kemudahan dalam menjalani hari. 

Nah... pada kali ini saya akan membahas tentang PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM yang teman-teman bisa lihat dari link sebagai berikut:

https://media.neliti.com/media/publications/195611-ID-pembentukan-karakter-melalui-pendidikan.pdf

Pertama kita akan mengingat kembali tentang apa itu Karakter?

Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut. 

Pendidikan karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus untuk kearah hidup yang lebih baik. Terlebih sekarang dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini telah banyak terjadi krisis moral yang terjadi ditengah – tengah masyarakat maupun dilingkungan pemerintah yang semakin meningkat dan beragam jenisnya. Contohnya saja seperti tindakan kriminalitas, ketidakadilan, korupsi, kekerasan pada anak, pelangggaran HAM hal tersebut menjadi bukti bahwa telah terjadi krisis jati diri dan karakteristik pada bangsa Indonesia. Terkadang telah banyak upaya yang ingin bahkan telah dilakukan agar dapat mengatasi masalah yang ada pada terkhususnya peserta didik, sebab peserta didik adalah calon bibit harapan bangsa dikehidupan berikutnya maka dari itu peran pembentukan karakter sangat diperlukan terlebih melalui Pendidikan Agama Islam.

Peran pendidikan agama Islam sangatlah strategis dalam mewujudkan pembentukan karakter siswa. Pendidikan agama merupakan sarana pengetahuan dalam aspek keagamaan (aspek kognitif), sebagai sarana transformasi norma serta nilai moral untuk membentuk sikap (aspek afektif), yang berperan dalam mengendalikan prilaku (aspek psikomotorik). Akhlak atau karakter dalam Islam merupakan point utama dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hadits nabi yang menjelaskan tentang keutamaan pendidikan akhlak salah satunya hadits berikut ini: “ajarilah anak-anakmu kebaikan, dan didiklah mereka”.

Akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan manusia yang menjadi penentu keberhasilan bagi potensi pedagogis yang lain. Prinsip akhlak terdiri dari empat hal yaitu:

1.     Hikmah ialah situasi keadaan psikis dimana seseorang dapat membedakan antara hal yang benar dan yang salah.

2.     Syajaah (kebenaran) ialah keadaan psikis dimana seseorang melampiaskan atau menahan potensialitas aspek emosional dibawah kendali akal.

3.     Iffah (kesucian) ialah mengendalikan potensialitas selera atau keinginan dibawah kendali akal dan syariat.

4.     ‘adl (keadilan) ialah situasi psikis yang mengatur tingkat emosi dan keinginan sesuai kebutuhan hikmah disaat melepas atau melampiaskannya

Jadi prinsip akhlak diatas menegaskan bahwa fitrah jiwa manusia terdiri dari potensi nafsu yang baik dan potensi nafsu yang buruk, tetapi melalui pendidikan diharapkan manusia dapat berlatih untuk bisa mengontrol semua perbuatannya.

Tujuan utama Pembelajaran PAI adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan sehari-hari. Serta Pendidikan Agama Islam juga berperan penting yang mana bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia.

Indikator keberhasilan pendidikan Karakter adalah jika seseorang telah mengetahui sesuatu yang baik (knowing the good) yang bersifat kognitif, kemudian mencintai yang baik (loving the good) bersifat afektif dan terakhir dapat melakukan yang baik (acting the good) yang bersifat psikomotorik.

Keberhasilan pembelajaran PAI disekolah salah satunya juga ditentukan oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat. Proses belajar mengajar diharapkan dalam pendidikan akhlak adalah lebih kepada mendidik bukan hanya sekedar mengajar. Mendidik berarti proses pembelajaran lebih diarahkan kepada bimbingan atau berupa sebuah nasihat. Membimbing dan menasehati berarti mengarahkan peserta didik terhadap pembelajaran nilai-nilai sebagai tauladan dalam kehidupan nyata, jadi bukan sekedar menyampaikan yang bersifat pengetahuan saja. Tujuannya juga agar peserta didik bisa mengamalkan pembelajaran yang telah didapatnya ketika disekolah, jadi ini berbuahkan hasil yang baik karena adanya proses yang baik

Sempat terpikirkan jika pembelajaran PAI ini posisinya bukanlah salah satu materi yang menjadi standar kelulusan bagi siswa dan berpengaruh terhadap peserta didik dan pendidik dalam pembelajarannya. Hal inilah menyebabkan pelajaran PAI dianggap remeh bahkan hanya sekedar menjadi pelengkap pembelajaran saja dan perlu diketahui lagi untuk poisisi pelajaran agama islam Ketika SD-SMA menepati posisi 1 dalam buku rapot yang menandakan pelajaran ini adalah mata pelajaran yang penting dibandingkan mata pelajaran lainnya. Mengingat lagi  pembelajaran PAI hanya dilakukan didalam kelas saja yang dibatasi oleh waktu pelajaran setiap minggu, parahnya lagi evaluasi PAI hanya dilakukan dengan tes tertulis.

Usaha untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, di antaranya terlebih dahulu mencapai tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam. Tujuan pembelajaran juga dapat diartikan juga sebagai tujuan operasional atau tujuan praktis yang dapat dicapai melalui sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Contohnya  saja yang pernah saya alami ketika masa SMA.

Jadi saya ingin berbagi cerita sedikit mengenai pengalaman belajar saya,  ketika itu pembelajaran agama islam biasanya dilaksanakan atau dilakukan hanya satu kali dalam seminggu syukurnya pembelajaran ini dilaksanakan dengan waktu yang panjang yaitu 3 jam, yang mana hitungannya untuk per 1 jam dihitung selama 45 menit, jadi dalam seminggu kami hanya mendapatkan waktu 135 menit untuk belajar agama. Terlebih lagi kelas saya dapati ternyata guru yang mengampu mata pelajaran Agama Islam tersebut merupakan alumni pesantren yang membuat pelajaran yang biasanya dilakukan untuk anak tingkat SMA rasa saya agak berbeda dari yang lainnya. Seperti contoh saja setiap mata pelajaran agama diwajibkan para siswa untuk membawa Al-Qur’an dan tugasnya kami biasnya disuruh mengaji dalam urutan acak. Kemudian terdapat pembelajaran dasar yaitu bagaimana tata cara berwudhu yang benar dan disertai doanya, terlebih lagi kami wajib untuk menghapalkan doa tersebut karena ini termasuk dalam nilai ujian praktek. Dari ini yang saya maksud adalah pentingnya pendidikan karakter pada peserta didik, karena karakter seseorang muncul dari sebuah kebiasaan yang berulang-ulang dalam waktu yang lama serta adanya teladan yang bisa didapatkan. Hapalan yang kami lakukan bukan hanya sekedar mengejar nilai semata jika ini dilakukan dengan niat yang baik agar wudhu kami diterima setiap anggota badan yang dibasuh maka saya yakin sampai sekarang pun ingatan bacaan doa wudhu tersebut masih diamalkan sampai sekarang. Dan itu merupakan salah satu pembiasan yang dilakukan dalam pembelajaran dikelas.

Selain itu Sedangkan upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam memaksimalkan pembelajaran PAI di sekolah di antaranya:

1) Dibutuhkan guru yang profesional dalam arti mempuni dalam keilmuannya, berakhlak dan mampu menjadi teladan bagi siswanya. Seperti yang saya katakan tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu tapi juga berperan dalam membimbing peserta didik.

2) Pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi ditambah dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang dilaksanakan dengan serius sebagai bagian pembelajaran. Dan ini juga termasuk salah satu upaya yang dilakukan oleh guru agama saya ketika SMA terkhususnya bagi anak yang mengikuti kegiatan Rohani Islami  atau yang biasa disebut dengan Rohis. Jadi program pembelajaran yang dilaksanakan setiap pagi sebelum bel masuk kelas kami mengadakan pembelajaran itu didepan masjid sekolah. Berhubungan lokasi sekolah kami berada dijalan raya dan didepan sekolah tepat adanya masjid memudahkan kami untuk fokus belajar mengaji dan mempelajari hukum tajwid yang dibimbing oleh guru agama kami.

Memang diawal diluar pembelajaran ini sangat sedikit sekali yang mengikuti mengingat terlalu pagi dan para siswa memiliki kesibukannya masing-masing. Kemudian lama kelamaan ini berproses dan memberikan pengaruh yang baik sebab pembelajaran untuk mendalami Qur’an tak mungkin kami dapatkan dikelas karena keterbatasan waktu.

Dan ternyata anak SMP juga mendapatkan hal yang sama juga bahkan lebih dari kami karena program yang mereka ikuti tersebut merupakan program wajib langsung dari sekolah. Mereka sangat beruntung karena apa? Karena mereka mendapatkan pembelajaran lain selain pembelajaran Qur’an yaitu seperti pembelajaran fiqih, nahwu shorof, dan wajib menghapalkan juz amma sebagai syarat kelulusan.Program ini dilaksanakan sehabis sholat dzuhur dan dengan lokasi yang sama.

3) Mewajibkan siswa melaksanakan ibadah-ibadah tertentu di sekolah dengan bimbingan guru. Misalnya rutin melaksanakan salat dzuhur berjamaah yang telah lama kami terapkan walaupun disaat jam itu pembelajaran masih berlangsung akan tetapi kita sebagai pendidik ada yang memberikan izin terhadap peserta didiknya untuk melaksanakan sholat dimasjid.

4) Menyediakan tempat ibadah yang layak bagi kegiatan keagamaan, seperti disediakannya mushola agar para dapat memudahkan peserta didik melakukan ibadah.

5) Membiasakan akhlak yang baik di lingkungan sekolah dan dilakukan oleh seluruh masyarakat sekolah. Misalnya saja program setiap pagi saat pendidik akan bertugas menjadi guru piket maka dianjurkan kita menerapakan 3S yaitu salam, sapa, dan senyum kepada peserta didik agar mereka dapat merenspon dengan baik dengan ekspresi yang kita berikan.

6) Dan sebaiknya semua guru dapat mengimplementasikan pendidikan agama dalam keseluruhan materi yang diajarkan sebagai wujud pendidikan karakter secara menyeluruh. Jika beberapa hal tersebut dapat terlaksana maka tujuan pendidikan nasional dalam menciptakan anak didik yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dapat dengan mudah tercapai.

Sekian laporan hasil bacaan dan saya juga sempat berbagi pengalaman maaf jika ada salah kata atau salah dalam pengetikan saya mohon maaf. Semoga ini bermanfaat bagi para pembaca sekian dari saya ucapakan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  NAMA             :   Assya Nurlansa NIM                 : 11901178 KELAS            : PAI 4 B MAKUL          : Magang 1 (Laporan Bacaan/p1...