Rabu, 16 Juni 2021

 

NAMA            :  Assya Nurlansa
NIM                : 11901178
KELAS           : PAI 4 B
MAKUL         : Magang 1 (Laporan Bacaan/p11)


MEMBANGUN SEMANGAT SISWA DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH

oleh Muhammd Sadri Koto .

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hallo teman… bagaimana kabar para pembaca selama sepekan ini?

Bertemu lagi dengan blog saya dan saya ingin memaparkan hasil bacaan saya pada pekan ini, pada kali ini saya membaca jurnal tentang “MEMBANGUN SEMANGAT SISWA DALAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH” oleh Muhammd Sadri Koto .

Sudah tak asing bukan setelah mendengar kata “LITERASI” tapi sebelum itu mari kita mengulang kembali serta membahas pengertian dari literasi tersebut.

Literasi berasal dari bahasa Latin,  yaitu (literatus) yang berarti “a learned person” yang artinya  orang yang belajar. Literasi merupakan suatu kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami saat melakukan proses membaca dan menulis. Secara bahasa literasi adalah kemampuan siswa dalam menulis dan membaca. Namun sangat disayangkan pada kenyataan yang terjadi sekarang, literasi masih tergolong sangat rendah peminatnya terutama untuk  pelajar Indonesia sekarang. Bahkan buku-buku pelajaran tak lagi diminati pelajar masa kini.

Membaca adalah salah satu tradisi lama yang kini mulai terlupakan. Generasi muda sekarang yang terbuai akan kecanggihan teknologi menunjukkan bahwa minat rendah terhadap membaca. Namun kini budaya membaca kembali digalakkan di seluruh dunia. Di antarnya dengan memberi kesempatan pada para penulis untuk mempublikasikan karya mereka, tidak membatasi genre buku yang diterbitkan, hingga menambah jumlah buku yang diterbitkan.

Dalam budaya membaca, menulis, berdiskusi tak lagi menjadi ciri khas pelajar saat ini. Terlebih dari yang saya baca dari jurnal berdasarkan Penelitian dan Badan Pengembangan Kemendikbud, kemampuan membaca anak usia 15 tahun hanya 37,6 persen anak membaca tanpa bisa menangkap makna. Bisa dibayangkan bukan untuk usia anak-anak yang seharusnya masih semangat dalam membaca hanya sedikit yang membaca apalagi akan menangkap makna dari bacaan tersebut ini sangat berpengaruh bagi peserta didk karena jika seorang anak tersebut rajin membaca maka lambat laun anak tersebut akan terbiasa dan kemungkinan besar mereka akan cepat dengan mudah menangkap apa sebenarnya makna dari bacaan tersebut. Maka dengan itu mereka bisa dengan mudah memahami pelajaran apapun. Terkait dalam persoalan menulis, dibandingkan dengan negara berkembang lainnya walaupun minat membaca di Indonesia tergolong sangat rendah dengan minat baca terendah tersebut. Meski demikian, industri percetakan buku di Indonesia sangat maju. Terbukti dengan dikeluarkannya lebih dari 89.000 judul buku di tahun 2018 untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Mengingat mengenai buku yang ada didunia Pada tahun 2015, terdapat 1,6 juta buku yang diterbitkan di seluruh dunia. Hampir separuh dari jumlah tersebut diterbitkan oleh dua negara, yaitu China dan Amerika Serikat. Data tersebut dikeluarkan oleh International Publishers Association (IPA), sebuat organisasi non-profit yang berbasis di Jenewa, Swiss.

Pertama, seperti negara China yang menjadi negara  paling banyak mencetak buku di dunia. Tercatat pada tahun 2013, China menerbitkan 440.000 judul buku baru, termasuk edisi revisi. Dan menurut Reading Report yang dirilis oleh Amazon China, toko buku online terbesar di negara tersebut, tren membaca di China mengalami peningkatan termasuk di kalangan generasi muda. China tercatat menerbitkan 28% dari total seluruh buku yang diterbitkan di seluruh dunia, sementara Amerika Serikat menerbitkan 20% dari jumlah tersebut. Tingginya jumlah buku yang diterbitkan oleh setiap negara menunjukkan budaya membaca, literasi, dan pendapatan per kapita negara tersebut. Dan wajar saja negara China dan Amerika Serikat tergolong negara dengan pendapatan per kapita tertinggi.

Education Development Center (EDC) juga menyatakan, literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan keterampilan (skills) yang dimiliki dalam hidupnya. Farr (1984) menyampaikan bahwa “Reading is the heart of education”. Sedangkan dalam kaitannya dengan menulis, Hernowo (2005) dalam bukunya “Mengikat Makna” menyebut bahwa menulis dapat membuat pikiran kita lebih tertata tentang topik yang kita tulis.

Suhardjono (2016) menyatakan literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Orang dengan kegemaran membaca dan menulis, umumnya disebut sebagai orang yang (telah) berbudaya literasi. Ada pula yang mengatakan, budaya literasi adalah kebiasaan berfikir yang diikuti oleh proses membaca dan menulis.

Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Jadi dapat dinyatakan bahwa literasi adalah berbagai aktivitas yang berkaitan dengan aktivitas berbahasa, khususnya membaca dan menulis. Program Gerakan Literasi Sekolah yang digulirkan oleh Kemendikbud merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Tujuan Umum literasi adalah menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar menjadi terlaksanabya pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat. Makanya ada sebuah hadist yang menyebutkan” Uthlubul 'ilma minal mahdi ilal lakhdi” Artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.”

Tujuan Khususnya Program Gerakan Literasi Sekolah, sebagai berikut :

1.      Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah

2.      Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.

3.      Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

4.      Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca

Berdasarkan urian diatas maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dialami dalam pelaksanaan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yaitu :

1.      Rendahnya minat siswa dalam kegiatan membaca dan menulis (literasi)

2.      Minimnya buku non pelajaran di perpustakaan sekolah

3.      Pengelolaan perpustakaan sekolah yang kurang mendukung kebutuhan peserta didik,

4.      Lemahnya apresiasi terhadap peserta didik dalam kaitan membaca dan menulis (literasi)

5.      Tidak adanya kegiatan yang memacu semangat literasi anak atau peserta didik.

Mengingat kita masih dalam pembahasan Literasi, seperti biasanya kita akan berbagi pengalaman dalam blog ini selain mengetahui materi literasi maka kita akan kembangkan lagi dalam kehidupan sehari-hari terkhusus bagaimana penerapannya disalah satu sekolah. Saya dan teman saya sudah mengalami kebijakan literasi ini disekolah yang mana awal-awalnya kebijakan ini sedang tren dan jadi topik bahasan yang hangat dan juga sudah banyak sekolah yang menerapkan sistem literasi disekolah.

Buku yang direkomendasikan oleh pihak sekolah diberikan kebebasan dalam memilih buku apa yang hendak kami jadikan bahan bacaan setiap harinya dan buku itu tentunya memiliki berbagai genre. Misalnya saja genre non fiksi, fantasi, sejarah, biografi bahkan sci-fi. Tapi akan lebih baik jika buku yang kami baca tersebut masih tergolong dalam pelajaran sekolah. Selain itu untuk menindak lanjuti bahwa kegiatan literasi ini sebagai kebijakan yang dilakukan agar para siswa-siswi dapat membiasakan diri untuk membaca maka sekolah kami dulu menggunakan media buku jurnal yang digunakan untuk sebagai bukti bahwa kita telah menerapkan literasi tersebut dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Bukti buku jurnal tersebut berisikan data untuk para siswa-siswi isi dijurnal tersebut dan itu mengenai data nama, tanggal, hari, waktu, buku bacaan apa yang dibaca serta tanda tangan siswa tersebut. Ketika akan memasuki kelas maka guru yang masuk npada jam pertama-selesai akan bertugas memeriksa buku apa saja yang dibawa oleh siswa-siswi dikelas tersebut. Apakah sesuai dengan rekomendasi dari sekolah atau  tidak jadi kami tidak membaca buku yang hanya  sekedar menghibur tapi lebih kepada ilmu dan wawasan yang dibutuhkan oleh peserta didik.

Pada saat jam masuk sekolah lainnya tepat pada pukul 07.00 sekolah kami telah masuk 15 menit sebelum pukul 07.00 pagi karena waktu alokasi itu digunakan untuk literasi. Jadi kami masuk kekelas tepat pukul 06.45 terkadang juga waktu membaca kami lebih dari 15 menit. Contohnya saja pada hari jum’at kami sebagai peserta didik wajib untuk membawa Al-qur’an dan biasanya kami melakukan tadarus bersama dan kebetulan pada hari jum’at itu jam pertama kami terdapat pelajaran Agama Islam yang berlangsung selama 135 menit. Yang menjadikan kami wajib membaca Al-qur’an secara berjamaah. Jika terdapat siswa atau siswi yang lupa atau tidak membawa buku atau Al-qur’an tersebut maka mereka akan dikenai hukuman yaitu berdiri didepan kelas selama proses litersi tersebut berlangsung. Yang awal-awalnya para siswa-siswi belum terbiasa akan kebijakan bagus ini lambat laun mereka terbiasa dan terus membawa buku bacaan mereka bahkan sampai mereka mengganti buku tersebut karena telah selesai membaca buku tersebut. Dan ini menunjukkan kebijakan ini jika dilakukan dan diterapkan akan berdampak baik bagi peserta didik maupun kegiatan pembelajaran disekolah dan saya rasa kebijakan sekolah yang telah diambil ini  sangatlah efektif untuk membiasakan para peserta didik untuk membiasakan membaca disetiap harinya.

Jadi begitulah gambaran kegiatan proses literasi yang sempat sekolah saya terapkan. Sekian laporan bacaan dari saya dan saya berharap ini bermanfaat bagi para pembaca dan menambah wawasan serta bisa diambil hikmah dari pengalaman tersebut.

Sekian dari saya, saya ucapkan terimakasih dan sampai jumpa lagi nanti dengan tema blog yang terbaru

Selasa, 08 Juni 2021

PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Laporan Bacaan Magang 1
Assya Nurlansa (11901178)

PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Apa kabar sahabat pada kali ini? 

sudah hampir satu bulan bukan kita tak berjumpa dan kini kita dipertemukan lagi dengan laporan hasil bacaan saya pada minggu ini.

Saya berharap kita selalu diberikan kesehatan serta kemudahan dalam menjalani hari. 

Nah... pada kali ini saya akan membahas tentang PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM yang teman-teman bisa lihat dari link sebagai berikut:

https://media.neliti.com/media/publications/195611-ID-pembentukan-karakter-melalui-pendidikan.pdf

Pertama kita akan mengingat kembali tentang apa itu Karakter?

Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut. 

Pendidikan karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus untuk kearah hidup yang lebih baik. Terlebih sekarang dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini telah banyak terjadi krisis moral yang terjadi ditengah – tengah masyarakat maupun dilingkungan pemerintah yang semakin meningkat dan beragam jenisnya. Contohnya saja seperti tindakan kriminalitas, ketidakadilan, korupsi, kekerasan pada anak, pelangggaran HAM hal tersebut menjadi bukti bahwa telah terjadi krisis jati diri dan karakteristik pada bangsa Indonesia. Terkadang telah banyak upaya yang ingin bahkan telah dilakukan agar dapat mengatasi masalah yang ada pada terkhususnya peserta didik, sebab peserta didik adalah calon bibit harapan bangsa dikehidupan berikutnya maka dari itu peran pembentukan karakter sangat diperlukan terlebih melalui Pendidikan Agama Islam.

Peran pendidikan agama Islam sangatlah strategis dalam mewujudkan pembentukan karakter siswa. Pendidikan agama merupakan sarana pengetahuan dalam aspek keagamaan (aspek kognitif), sebagai sarana transformasi norma serta nilai moral untuk membentuk sikap (aspek afektif), yang berperan dalam mengendalikan prilaku (aspek psikomotorik). Akhlak atau karakter dalam Islam merupakan point utama dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hadits nabi yang menjelaskan tentang keutamaan pendidikan akhlak salah satunya hadits berikut ini: “ajarilah anak-anakmu kebaikan, dan didiklah mereka”.

Akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan manusia yang menjadi penentu keberhasilan bagi potensi pedagogis yang lain. Prinsip akhlak terdiri dari empat hal yaitu:

1.     Hikmah ialah situasi keadaan psikis dimana seseorang dapat membedakan antara hal yang benar dan yang salah.

2.     Syajaah (kebenaran) ialah keadaan psikis dimana seseorang melampiaskan atau menahan potensialitas aspek emosional dibawah kendali akal.

3.     Iffah (kesucian) ialah mengendalikan potensialitas selera atau keinginan dibawah kendali akal dan syariat.

4.     ‘adl (keadilan) ialah situasi psikis yang mengatur tingkat emosi dan keinginan sesuai kebutuhan hikmah disaat melepas atau melampiaskannya

Jadi prinsip akhlak diatas menegaskan bahwa fitrah jiwa manusia terdiri dari potensi nafsu yang baik dan potensi nafsu yang buruk, tetapi melalui pendidikan diharapkan manusia dapat berlatih untuk bisa mengontrol semua perbuatannya.

Tujuan utama Pembelajaran PAI adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan sehari-hari. Serta Pendidikan Agama Islam juga berperan penting yang mana bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia.

Indikator keberhasilan pendidikan Karakter adalah jika seseorang telah mengetahui sesuatu yang baik (knowing the good) yang bersifat kognitif, kemudian mencintai yang baik (loving the good) bersifat afektif dan terakhir dapat melakukan yang baik (acting the good) yang bersifat psikomotorik.

Keberhasilan pembelajaran PAI disekolah salah satunya juga ditentukan oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat. Proses belajar mengajar diharapkan dalam pendidikan akhlak adalah lebih kepada mendidik bukan hanya sekedar mengajar. Mendidik berarti proses pembelajaran lebih diarahkan kepada bimbingan atau berupa sebuah nasihat. Membimbing dan menasehati berarti mengarahkan peserta didik terhadap pembelajaran nilai-nilai sebagai tauladan dalam kehidupan nyata, jadi bukan sekedar menyampaikan yang bersifat pengetahuan saja. Tujuannya juga agar peserta didik bisa mengamalkan pembelajaran yang telah didapatnya ketika disekolah, jadi ini berbuahkan hasil yang baik karena adanya proses yang baik

Sempat terpikirkan jika pembelajaran PAI ini posisinya bukanlah salah satu materi yang menjadi standar kelulusan bagi siswa dan berpengaruh terhadap peserta didik dan pendidik dalam pembelajarannya. Hal inilah menyebabkan pelajaran PAI dianggap remeh bahkan hanya sekedar menjadi pelengkap pembelajaran saja dan perlu diketahui lagi untuk poisisi pelajaran agama islam Ketika SD-SMA menepati posisi 1 dalam buku rapot yang menandakan pelajaran ini adalah mata pelajaran yang penting dibandingkan mata pelajaran lainnya. Mengingat lagi  pembelajaran PAI hanya dilakukan didalam kelas saja yang dibatasi oleh waktu pelajaran setiap minggu, parahnya lagi evaluasi PAI hanya dilakukan dengan tes tertulis.

Usaha untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, di antaranya terlebih dahulu mencapai tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam. Tujuan pembelajaran juga dapat diartikan juga sebagai tujuan operasional atau tujuan praktis yang dapat dicapai melalui sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Contohnya  saja yang pernah saya alami ketika masa SMA.

Jadi saya ingin berbagi cerita sedikit mengenai pengalaman belajar saya,  ketika itu pembelajaran agama islam biasanya dilaksanakan atau dilakukan hanya satu kali dalam seminggu syukurnya pembelajaran ini dilaksanakan dengan waktu yang panjang yaitu 3 jam, yang mana hitungannya untuk per 1 jam dihitung selama 45 menit, jadi dalam seminggu kami hanya mendapatkan waktu 135 menit untuk belajar agama. Terlebih lagi kelas saya dapati ternyata guru yang mengampu mata pelajaran Agama Islam tersebut merupakan alumni pesantren yang membuat pelajaran yang biasanya dilakukan untuk anak tingkat SMA rasa saya agak berbeda dari yang lainnya. Seperti contoh saja setiap mata pelajaran agama diwajibkan para siswa untuk membawa Al-Qur’an dan tugasnya kami biasnya disuruh mengaji dalam urutan acak. Kemudian terdapat pembelajaran dasar yaitu bagaimana tata cara berwudhu yang benar dan disertai doanya, terlebih lagi kami wajib untuk menghapalkan doa tersebut karena ini termasuk dalam nilai ujian praktek. Dari ini yang saya maksud adalah pentingnya pendidikan karakter pada peserta didik, karena karakter seseorang muncul dari sebuah kebiasaan yang berulang-ulang dalam waktu yang lama serta adanya teladan yang bisa didapatkan. Hapalan yang kami lakukan bukan hanya sekedar mengejar nilai semata jika ini dilakukan dengan niat yang baik agar wudhu kami diterima setiap anggota badan yang dibasuh maka saya yakin sampai sekarang pun ingatan bacaan doa wudhu tersebut masih diamalkan sampai sekarang. Dan itu merupakan salah satu pembiasan yang dilakukan dalam pembelajaran dikelas.

Selain itu Sedangkan upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam memaksimalkan pembelajaran PAI di sekolah di antaranya:

1) Dibutuhkan guru yang profesional dalam arti mempuni dalam keilmuannya, berakhlak dan mampu menjadi teladan bagi siswanya. Seperti yang saya katakan tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu tapi juga berperan dalam membimbing peserta didik.

2) Pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi ditambah dengan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang dilaksanakan dengan serius sebagai bagian pembelajaran. Dan ini juga termasuk salah satu upaya yang dilakukan oleh guru agama saya ketika SMA terkhususnya bagi anak yang mengikuti kegiatan Rohani Islami  atau yang biasa disebut dengan Rohis. Jadi program pembelajaran yang dilaksanakan setiap pagi sebelum bel masuk kelas kami mengadakan pembelajaran itu didepan masjid sekolah. Berhubungan lokasi sekolah kami berada dijalan raya dan didepan sekolah tepat adanya masjid memudahkan kami untuk fokus belajar mengaji dan mempelajari hukum tajwid yang dibimbing oleh guru agama kami.

Memang diawal diluar pembelajaran ini sangat sedikit sekali yang mengikuti mengingat terlalu pagi dan para siswa memiliki kesibukannya masing-masing. Kemudian lama kelamaan ini berproses dan memberikan pengaruh yang baik sebab pembelajaran untuk mendalami Qur’an tak mungkin kami dapatkan dikelas karena keterbatasan waktu.

Dan ternyata anak SMP juga mendapatkan hal yang sama juga bahkan lebih dari kami karena program yang mereka ikuti tersebut merupakan program wajib langsung dari sekolah. Mereka sangat beruntung karena apa? Karena mereka mendapatkan pembelajaran lain selain pembelajaran Qur’an yaitu seperti pembelajaran fiqih, nahwu shorof, dan wajib menghapalkan juz amma sebagai syarat kelulusan.Program ini dilaksanakan sehabis sholat dzuhur dan dengan lokasi yang sama.

3) Mewajibkan siswa melaksanakan ibadah-ibadah tertentu di sekolah dengan bimbingan guru. Misalnya rutin melaksanakan salat dzuhur berjamaah yang telah lama kami terapkan walaupun disaat jam itu pembelajaran masih berlangsung akan tetapi kita sebagai pendidik ada yang memberikan izin terhadap peserta didiknya untuk melaksanakan sholat dimasjid.

4) Menyediakan tempat ibadah yang layak bagi kegiatan keagamaan, seperti disediakannya mushola agar para dapat memudahkan peserta didik melakukan ibadah.

5) Membiasakan akhlak yang baik di lingkungan sekolah dan dilakukan oleh seluruh masyarakat sekolah. Misalnya saja program setiap pagi saat pendidik akan bertugas menjadi guru piket maka dianjurkan kita menerapakan 3S yaitu salam, sapa, dan senyum kepada peserta didik agar mereka dapat merenspon dengan baik dengan ekspresi yang kita berikan.

6) Dan sebaiknya semua guru dapat mengimplementasikan pendidikan agama dalam keseluruhan materi yang diajarkan sebagai wujud pendidikan karakter secara menyeluruh. Jika beberapa hal tersebut dapat terlaksana maka tujuan pendidikan nasional dalam menciptakan anak didik yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dapat dengan mudah tercapai.

Sekian laporan hasil bacaan dan saya juga sempat berbagi pengalaman maaf jika ada salah kata atau salah dalam pengetikan saya mohon maaf. Semoga ini bermanfaat bagi para pembaca sekian dari saya ucapakan terima kasih.

  NAMA             :   Assya Nurlansa NIM                 : 11901178 KELAS            : PAI 4 B MAKUL          : Magang 1 (Laporan Bacaan/p1...